Pengalaman Mendaki Gunung Sindoro
Pada hari Senin, 30 Juni 2025, aku diajak temanku untuk mendaki Gunung Sindoro. Setelah berdiskusi dan merencanakan keberangkatan, kami sepakat untuk berangkat keesokan harinya, yaitu Selasa, 1 Juli 2025. Saat itu aku belum menyiapkan apa pun, bahkan logistik pun belum lengkap karena semuanya berlangsung sangat mendadak.
Keesokan harinya aku segera membeli beberapa perlengkapan dan makanan untuk mendaki, seperti sosis, minuman, dan makanan berat. Sore harinya aku menghubungi teman-temanku melalui WhatsApp untuk menentukan titik kumpul, dan akhirnya kami sepakat untuk berkumpul di rumah Canggih. Aku menjadi orang pertama yang tiba di sana, sekitar pukul tiga sore. Tak lama kemudian teman-teman lain datang, tetapi Nolan sangat lama karena ia sempat mandi dan menyewa alat pendakian terlebih dahulu. Ia baru tiba sekitar pukul empat, bahkan hampir setengah lima sore.
Sambil menunggu Nolan, aku, Canggih, Adam, dan Vino sempat berbelanja di Indomaret terdekat. Setelah semua siap, kami berangkat menuju Gunung Sindoro melalui jalur atas, yaitu jalur Bandungan. Kami tiba di base camp sekitar pukul setengah delapan malam. Setelah beristirahat sebentar, kami melakukan registrasi pendakian pada pukul sepuluh malam. Pendakian malam untuk pendaki tektok (yang naik-turun tanpa berkemah) baru diperbolehkan mulai pukul dua belas malam, sedangkan pendaki yang berkemah boleh berangkat sejak pukul sembilan malam. Karena salah satu syarat pendakian tektok adalah membawa makanan berat, aku membeli makanan lagi untuk melengkapinya.
Tepat pukul dua belas malam kami mulai mendaki tanpa menggunakan jasa ojek. Perjalanan terasa sangat melelahkan dan menguras stamina. Aku dan Nolan tiba di Pos Watu Tatah sekitar pukul lima pagi. Karena merasa sangat mengantuk, aku memutuskan tidak melanjutkan ke puncak dan memilih tidur di dekat pos. Saat itu banyak orang mengira aku terkena hipotermia karena tubuhku dibungkus banyak emergency blanket—bahkan ada yang bercanda memanggilku “ulat gunung.”
Setelah bertemu kembali dengan Nolan, kami mencari tempat yang cukup luas untuk beristirahat. Kami menemukan lahan kecil yang hanya cukup untuk dua orang, lalu menggelar emergency blanket sebagai alas tidur. Awalnya aku tidak bisa tidur karena kedinginan, tapi setelah mengganjal kakiku dengan tas, akhirnya aku bisa terlelap sebentar. Sekitar tiga puluh menit kemudian aku terbangun karena tubuh bagian kananku terasa dingin.
Kami lalu membereskan sampah yang ada dan bersiap untuk turun. Tubuh terasa segar setelah beristirahat. Di Pos 3 kami bertemu dengan Vino yang bercerita bahwa kakinya lecet dan berdarah karena terserempet Adam yang hampir terjatuh saat berlari bersamanya. Setelah itu aku dan Nolan melanjutkan perjalanan hingga Pos 1 dan memutuskan naik ojek untuk turun ke base camp.
Sesampainya di bawah, aku langsung tidur dan baru terbangun ketika Canggih dan Adam datang. Kami sempat khawatir karena Zidan belum juga turun. Tak lama kemudian Nolan disuruh pulang, dan kami berencana kembali ke rumah pada sore hari sekitar pukul setengah lima. Dalam perjalanan pulang, Adam dan Vino berpisah dengan kami karena ban motor Nolan bocor, sehingga kami harus mencari tambal ban terlebih dahulu.
Setelah selesai menambal, kami melanjutkan perjalanan, namun hujan deras turun di tengah jalan. Di daerah Suwomono, terjadi kejadian yang hampir membuat aku dan Canggih celaka. Saat itu aku sedang membenarkan kaca helm yang terasa tidak nyaman, tiba-tiba jalan menurun tajam dan berbelok ke kiri. Aku refleks menekan rem belakang, namun ban motor slip dan motor sempat drift ke kanan dan kiri. Untung saja aku bisa mengendalikan motor dengan tenang dan tidak ada kendaraan di jalur kanan, karena kalau ada, mungkin kami sudah celaka.Setelah kejadian itu, kami memutuskan berhenti di depan sebuah ruko yang sudah tutup untuk menenangkan diri. Setelah merasa lebih tenang, kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Canggih. Nolan sebenarnya takut mengantar Zidan pulang, tapi akhirnya ia tetap melakukannya. Aku sendiri mampir ke rumah Canggih untuk beristirahat dan makan, sebelum akhirnya tiba di rumah pukul delapan malam dan langsung mandi.






Komentar
Posting Komentar